Medan — Kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat terus meningkat. Di tengah tren tersebut, usaha berbasis herbal mulai memperoleh tempat tersendiri. Salah satu yang menonjol datang dari alumni UMSU, Syahrani Devi, melalui usaha herbal yang ia dirikan, Keloria Moringa.
Keloria Moringa berawal dari pengalaman pribadi. Syahrani merasakan langsung manfaat tanaman kelor setelah rutin mengonsumsinya untuk membantu proses pemulihan kesehatan. Dari pengalaman itu, ia melihat potensi besar tanaman kelor untuk dikembangkan menjadi produk herbal yang tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan, tetapi juga memiliki nilai keberlanjutan.
“Awalnya dari pengalaman pribadi. Saya merasakan perbaikan kesehatan setelah rutin mengonsumsi kelor,” ungkap Syahrani.
Usaha ini resmi dimulai pada Agustus 2018 tanpa modal besar. Syahrani memanfaatkan tanaman kelor yang saat itu masih jarang diolah secara modern. Pilihan tersebut sejalan dengan tren back to nature sekaligus melihat peluang karena masih sedikit pelaku usaha yang mengembangkan produk serupa.
Keloria Moringa menyasar pasar yang cukup luas, mulai dari balita hingga lansia. Pada masa awal pengembangan usaha, tantangan terbesar adalah stigma negatif masyarakat terhadap tanaman kelor yang kerap dikaitkan dengan mitos dan pandangan nonilmiah. Untuk membangun kepercayaan pasar, Syahrani menerapkan strategi berbeda dengan terlebih dahulu membidik pasar luar negeri.
Menurutnya, ketika suatu produk telah diterima di pasar global, kepercayaan masyarakat dalam negeri biasanya akan mengikuti.
“Saya justru mulai mencari pasar ke luar negeri terlebih dahulu. Faktanya, masyarakat kita sering lebih percaya ketika sebuah produk sudah memiliki nilai di pasar internasional,” jelasnya.
Peran Keloria Moringa semakin terlihat ketika pandemi Covid-19 melanda. Di tengah banyaknya usaha yang terdampak, produk kapsul kelor justru dimanfaatkan sebagai pendukung proses pemulihan pasien Covid. Momentum tersebut menjadi titik penting bagi Keloria Moringa dalam menunjukkan relevansi produknya terhadap kebutuhan kesehatan masyarakat.
“Pada masa itu, kapsul kelor banyak digunakan sebagai pendukung pemulihan. Dari situ kami semakin yakin bahwa produk herbal memang dibutuhkan,” katanya.
Kontribusi tersebut berlanjut ketika isu stunting menjadi perhatian nasional. Produk cokelat kelor dan kukis kelor dari Keloria Moringa kemudian terlibat sebagai makanan tambahan (PMT) melalui kerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara dalam upaya penanganan stunting.
Dalam perjalanan usahanya, Syahrani mengakui bahwa peran UMSU sangat berpengaruh dalam membentuk dirinya. Latar belakang keilmuan pertanian serta pola didik para dosen yang tegas membentuk cara berpikir, mental, dan keberanian untuk segera mengeksekusi ide.
Baginya, bisnis bukan sekadar mengejar keuntungan, tetapi juga tentang bagaimana produk yang dihasilkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Saat ini, Keloria Moringa memiliki beberapa produk unggulan seperti Moricaps (kapsul kelor) dan Moringa Seeds Oil (minyak biji kelor) yang menjadi favorit konsumen. Produk-produk Keloria Moringa dapat diperoleh langsung di lokasi usaha pada jam kerja maupun melalui berbagai platform daring.
Sebagai bentuk apresiasi, Keloria Moringa memberikan potongan harga sebesar 10 persen khusus bagi pembaca Majalah Alumni UMSU dengan menunjukkan bukti telah membagikan artikel ini di media sosial.
Informasi produk dan pemesanan dapat diakses melalui media sosial Instagram, Facebook, dan TikTok @keloriamoringa, serta melalui marketplace Shopee dengan nama toko Keloria Moringa.
(by: Fizna Adn)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar